Budaya, kebiasaan menyalahkan kebiasaan

May 7, 2007
Budaya adalah sebuah nilai dalam masyarakat yang melekat erat dengan kepribadian tiap individu dalam komunitas. Jika diartikan seperti itu berarti budaya merupakan kesamaan cara berpikir dan kebiasaan tiap inividu dalam suatu komunitas. Akan sangat sulit bagi saya untuk membahas budaya, karena budaya memilki kerumitan sendiri dan harus menggunakan pendekatan ilmu sosial yang tidak saya kuasai.
Tapi bagaimana dengan kebiasaan, walau tidak menecerminkan keseluruhan kebiasaan seseorang juaga dibentuk dari keadaan masyarakat. Menurut saya akan sangat sulit membentuk kebiasaan yang baik jika kita berada di lingkungan orang-orang yang memiliki kebiasaan jelek.
Tapi lagi-lagi apakah kita akan selalu menyalahkan keadaan? Semua yang terjadi pada kita adalah akibat lingkungan sekitar kita? Gayaku berbicara, berpikir bahkan bertindak adalah hasil interaksiku dengan komuntasku? Jika kebiasaan ini kulakukan karena orang lain juga melakukan? Apakah kita akan terus-terusan seperti ini?
Sudah lumrah dikehidupan kita saat ini jika mengadakan acara selalu telat dari jadwal dan orang-orang akan nyeletuk “ah orang Indonesia sih”. Kata-kata ini sering sekali diucapkan dan aku tak habis berpikir kenapa negara yang disalahkan. Bahkan tidak sedikit aku temui teman-temanku yang sudah kehilangan jiwa indonesia dan malah membanggakan ketidakindonesian dirinya baik itu ciri fisik ataupun sifat. Tolong dimana kalian saat ini berdiri? Di bumi pertiei ini bukan? Kenapa tidak berusaha merubah bukan terus pesimis dan menyalahkan, bahkan mengexclude diri sendiri. Mungkin yang saya berikan adalah contoh yang sangat ekstrim. Tapi itulah kenyataan. Meyalahakan,menyalahkan dan menyalahkan keadaan.
Aku rasa kita tak ingin ini terus berjalan. Kita butuh pengubah. Orang-orang yang memilki optimis dan yakin akan harapan. Menularkan semangatnya ke orang lain. Tidak menyalahkan keadaan, orang lian maupun komunitas. Bertanggung jawab atas semua kesalahannya. Mungkin dibenci karena melawan arus. Tapi itulah konsekuesi idealisme dan anti-kemunafikan Sekarang pertanyaanya inginkah kita menjadi orang itu?

Budaya suatu komunitas dan kaitannya dengan kaderisasi

Switch bekas berharga Rp 50.00,00 yang tidak bekerja ternyata membuatku pusing. Rencananya kucoba beli dulu  untuk himpunan jika berhasil bukankah himpunan bisa menghemat Rp 100.000,00 soalnya switch standar bermerek harganya Rp 150.00,00, aku pun pergi ke warkop untuk mencari penyegaran. Temanku dari IMG 2004 Sihotang ternyata sedang berada di warkop. Iseng-iseng  kami ngobrol dan lama-kelamaan topik kita pun menyinggung masalah kemahasiswaan. kebetulan kita lagi punya kesibukan di himpunan masing-masing. Dari sihotang saya mendapat informasi teman-teman IMG sedang mengadakan rangkaian acara yang berdana besar dan tetnu saja menyedot sponsor. Hal ini tentu saja menarik minat saya. KePengurusan HMIF ini aku mendapatkan keprcayaan untuk menjadi kepala biro marketing. Dan informasi dari Sihotang sangat membantuku untuk membuat rencana ke depan di biro marketing HMIF.
Obrolan kami pun berlanjut di isu hangat ITB yaitu kaderisasi. Dari semua pembicaraan yang ia katakan aku tertaik pada pernyataan “semua kaderisasi 2005 gagal, padahal kaderisasi yang baik akan menentukan maju tidaknya suatu himpunan ke depan.” pada kelanjutan pembicaraan kami aku berpikir ia memilki mosi tidak percaya kepada 2005 karena banyak menerima hal-hal yang instan. Ia juga menambahkan IMG pun melakukan kesalahan dalam cara kaderisasi mencoba mencampurkan teori tabula rasa dan orang dewasa. Dalam pemikirannya penggabung ini terdapat kejelekan dimana tidak terdapat konsistensi yaitu tabula rasa tapi dipaksa berpikir dewasa, trus katanya orang dewasa kok musti dibaris dan diatur-atur. Tentu saja ini merupakan cerminan untuk iMG agar jangan melakukan kesalahan lagi di masa depan tambahnya. Aku cuma terdiam. Tak terasa waktu berlalu dan sihotang mengatkan ia harus kembali dan berpamitan denganku.
Dari pembicaraanku dengan Sihotang Aku menyimpulkan ada suatu budaya jelek yang muncul di ITB yaitu sifat abu-abu dan cari jalan tengah. Abu-abu yaitu sifat menggabungkan dua teori yang jelas-jelas bertentangan dengan alasan ingin medapatkan semua kebaikannya. Ini sesuai dengan ceritaku tentang cara kaderisasi IMG dulu yang mencoba menggabungkan cara orang tertindas dan orang dewasa. Akhirnya bukan kebaikan yang didapat justru ketidakjelasan hasil dan nasib.
Tentu saja budaya abu-abu adalah budaya yang memunculkan cari jalan tengah. Saat ini kalau aku ikut rapat trend orang adalah mencari jalan tengah. Padahal menurutku tidak semuanya lho harus jalan tengah. Pendapat orang kan juga gak selalu bisa digabungkan. Daripada memihak suatu sisi orang lebih suka meminimalkan resiko dengan mencari jalan tengah. Tapi aku lebih melihat tujuan cari jalan tengah cari aman dan tidak mau ambil resiko. Padahal setiap keputusan ada resikonya termasuk jalan tengah itu sendiri. Jalan tengah pun tidak menjamin resiko yang ditimbulkan akan lebih sedikit. Aku menyarankan jikapun ada jalan tengah tapi jika jalan tengah itu terkesan cari aman aku sih akan berkata tidak untuk jalan tengah. Lebih baik mengkaji kedua sisi, saling memberi pengertian dan mengambi satu sisi.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Viewfinder Design