Budaya suatu komunitas dan kaitannya dengan kaderisasi

May 7, 2007
Switch bekas berharga Rp 50.00,00 yang tidak bekerja ternyata membuatku pusing. Rencananya kucoba beli dulu  untuk himpunan jika berhasil bukankah himpunan bisa menghemat Rp 100.000,00 soalnya switch standar bermerek harganya Rp 150.00,00, aku pun pergi ke warkop untuk mencari penyegaran. Temanku dari IMG 2004 Sihotang ternyata sedang berada di warkop. Iseng-iseng  kami ngobrol dan lama-kelamaan topik kita pun menyinggung masalah kemahasiswaan. kebetulan kita lagi punya kesibukan di himpunan masing-masing. Dari sihotang saya mendapat informasi teman-teman IMG sedang mengadakan rangkaian acara yang berdana besar dan tetnu saja menyedot sponsor. Hal ini tentu saja menarik minat saya. KePengurusan HMIF ini aku mendapatkan keprcayaan untuk menjadi kepala biro marketing. Dan informasi dari Sihotang sangat membantuku untuk membuat rencana ke depan di biro marketing HMIF.
Obrolan kami pun berlanjut di isu hangat ITB yaitu kaderisasi. Dari semua pembicaraan yang ia katakan aku tertaik pada pernyataan “semua kaderisasi 2005 gagal, padahal kaderisasi yang baik akan menentukan maju tidaknya suatu himpunan ke depan.” pada kelanjutan pembicaraan kami aku berpikir ia memilki mosi tidak percaya kepada 2005 karena banyak menerima hal-hal yang instan. Ia juga menambahkan IMG pun melakukan kesalahan dalam cara kaderisasi mencoba mencampurkan teori tabula rasa dan orang dewasa. Dalam pemikirannya penggabung ini terdapat kejelekan dimana tidak terdapat konsistensi yaitu tabula rasa tapi dipaksa berpikir dewasa, trus katanya orang dewasa kok musti dibaris dan diatur-atur. Tentu saja ini merupakan cerminan untuk iMG agar jangan melakukan kesalahan lagi di masa depan tambahnya. Aku cuma terdiam. Tak terasa waktu berlalu dan sihotang mengatkan ia harus kembali dan berpamitan denganku.
Dari pembicaraanku dengan Sihotang Aku menyimpulkan ada suatu budaya jelek yang muncul di ITB yaitu sifat abu-abu dan cari jalan tengah. Abu-abu yaitu sifat menggabungkan dua teori yang jelas-jelas bertentangan dengan alasan ingin medapatkan semua kebaikannya. Ini sesuai dengan ceritaku tentang cara kaderisasi IMG dulu yang mencoba menggabungkan cara orang tertindas dan orang dewasa. Akhirnya bukan kebaikan yang didapat justru ketidakjelasan hasil dan nasib.
Tentu saja budaya abu-abu adalah budaya yang memunculkan cari jalan tengah. Saat ini kalau aku ikut rapat trend orang adalah mencari jalan tengah. Padahal menurutku tidak semuanya lho harus jalan tengah. Pendapat orang kan juga gak selalu bisa digabungkan. Daripada memihak suatu sisi orang lebih suka meminimalkan resiko dengan mencari jalan tengah. Tapi aku lebih melihat tujuan cari jalan tengah cari aman dan tidak mau ambil resiko. Padahal setiap keputusan ada resikonya termasuk jalan tengah itu sendiri. Jalan tengah pun tidak menjamin resiko yang ditimbulkan akan lebih sedikit. Aku menyarankan jikapun ada jalan tengah tapi jika jalan tengah itu terkesan cari aman aku sih akan berkata tidak untuk jalan tengah. Lebih baik mengkaji kedua sisi, saling memberi pengertian dan mengambi satu sisi.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://catur20.blogsome.com/2007/05/07/budaya-suatu-komunitas-dan-kaitannya-dengan-kaderisasi/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Viewfinder Design