Selangkah telah diambil

February 21, 2008

Satu hearing telah terlewati, sebuah ujian yang besar. kesan saya, semuanya luar biasa. jika saja semua cakahim bergabung dalam visi dan misi pasti bisa menciptakan visi dan misi yang dashyat. selebihnya dari para anggota yang datang, banyak pertanyaan yang membuka diri kita. banyak kritikan, pernyataan akan keraguan tetapi juga ada harapan. bagaimanapun aku kan terus maju.

Esok adalah hari hearing ke-2. sebelumnya sudah dua kali saya melakukan tour cakahim, 10 menit mempresentasikan diri di calon pemilih. entah bagaimana. perasaan mulai berkecamuk. saya melihat calon-calon orang yang akan saya pimpin nantinya tentu saja jika terpilih. dari mata mereka banyak sekali perasaan muncul. dari yang cuek, ketidakpercayaa sampai harapan yang besar. bagaimanapun saya harus dapat merangkul mereka.

Esok, ujian besar menghadang, proker dan struktur yang aku bawa akan sangat berbeda. saya mengambil sebuah keputusan yang berat. perubahan akan dimulai. dan disini saya sebagai sang pengubah. shock akan terjadi. ketidakterimaan akan muncul. tapi ini keyakinanku. ini struktur yang aku butuhkan, untuk membawa visi dan misi ini.  struktur yang membawa trikarya, yaitu:

  1. ketua
  2. sekretaris
  3. bendahara
  4. menteri pengabdian masyarakat
  5. menteri keprofesian
  6. menteri kaderisasi

sedangkan struktur divisi yang akan dibawa:

  1. BRT
  2. PSDA
  3. keprofesian
  4. keluarga
  5. media
  6. hubungan luar dan marketing
ya selebihnya akan saya buktikan.

Karya konkrit

February 15, 2008

sudahlah kata-kata itu jika hanya sebatas kata-kata, tidak ada artinya. mulut memang ajaib. ia dapat memperdaya orang-orang. janji-janji bisa dikatakan seenaknya. bahkan istilah NATO (No Action Talk Only) pernah sering didengungkan. bukannya tidak penting. tapi kita kan tidak merubah dunia lewat kata-kata, atau mungkin jarang sekali. hanya dengan perbuatan nyata adalah kita bisa mengubah sesuatu bukan sebuah bunyi yang terlontar dari mulut.

apakah kita tidak muak dengan itu? kita hanya bisa beralasan saat yang kita katakan tidak terjadi. apakah kita tidak malu? harusnya kita berhati-hati dalam berkata. keadaan saat ini bukan menuntut banyak retorika atau utopia yang bisa menghanyutkan pikiran dan terbuai dalam mimpi. kita justru butuh suatu seruan untuk bergerak dan itu tidak sekedar seruan. tapi dikerjakan.

Dalam proses pemilu HMIF, aku sebagai cakahim tidak akan terlalu banyak berkoar. aku akan berikan yang aku bisa lakukan. aku akan buktikan bahawa yang aku katakan akan aku kerjakan. tidak asal bicara sebuah kahyalan yang akan sulit tercapai. aku percaya HMIF akan menginginkan itu. suatu karya yang dapat dicapai.

 karena itu lah visi dariku. KARYA KONKRIT.. maaf tidak bisa berkata banyak.. sudah bosan.. aku mau bergerak.

dan perjalanan pun masih panjang.. 

tidak mudah, memang!

February 14, 2008

mulai hari ini hingga dua minggu ke depan adalah masa kampanye. oh ya sebelumnya Alhamdulillah saya lulus menjadi salah satu calon ketua HMIF dalam pemilu HMIF. semangat pastinya tetap membara.

tapi tidak  mudah memang. sebelum maju sebagai calon saya sudah diterpa isu tidak pantas menjadi kahim, lalu diterpa lagi isu konsolidasi beberapa perkumpulan mendukung salah satu calon (yang pastinya bukan saya). sedih, kecewa.. memang. tapi bukan alasan untuk kendur lantas mundur.

"alasan saya untuk maju bukan karena suatu golongan. ini merupakan niat untuk membentuk HMIF yang lebih baik.  terlalu pagi untuk kecil diri".

visi saya : "karya himpunanku konkrit" 

perjalanan tentu masih panjang, yah berjuang hingga titik darah penghabisan. 

 

Cakahim, gue

February 13, 2008

Dengan membulatkan niat ku pun maju menjadi calon ketua Himpunan Mahasiswa Informatika ITB. ingin menang pasti, tapi yang penting adalah kontribusi. semoga dengan niat ini aku dapat membawa warna baru di HMIF. sampai saat ini pun saya masih menimbang-nimbang di dalam hati, apakah yang aku lakukan ini benar?, apakah aku akan mampu?, apakah teman-teman mendukungku?. tapi bukankah "jika bukan diriku yang menentukan takdirku, orang lain yang akan memilihkan takdir tersebut". aku tidak biarkan keraguan itu meliputi.

mimpi ku adalah tri karya.

  1. karya profesional
  2. karya anggota
  3. karya ke masyarakat
dengan tercapainya hal itu semoga HMIF bisa menjadi lebih baik. dan aku pun memulai perjalananku.

 135 IF IF IF

kata dosen PPKN

November 13, 2007

beberapa sifat jelek bangsa Indonesia

 - oportunis

 - iri dan dengki

- … dst 

buat yang kedua gue sering merasakan ini. temen gue yang senang gue yang susah. ya Allah ampunilah aku..

 

Pemuda ayo bergerak, jangan hanya meminta

October 31, 2007

saya membaca koran kompas hari ini, dan mendapatkan artikel "wapres mengkritik pemuda". dalam artikel ini Wapres mengkritik pemuda sekarang yang banyak meminta tapi tidak bergerak. terlebih, bliau mebndingkannya dengan pemuda tahun 1928 yang bergerak. tidak ada yang ingin saya sanggah dalam pernyataan beliau. justru saya harus lebih banyak bercermin. apakah pemuda, gologanku, seperti itu saat ini?

sedikit monolog 

sebenarnya, beberapa hari yang lalu ada pewacanaan bahwa mahasiswa sekarang berbeda. orang lebih banyak bertanya apa yang bisa gue dapet?? walhasil mahasiswa  sekarang lebih berpikir panjang. kalau tidak ada gunanya tidak usah ikut walaupun alasannya isu sosial atau negara. loh kok jadi oportunis. mahasiswa memeilki peran. ini bukan masalah lu dapet sesuatu atau gak. tapi mainkan peranmu. saya pun diam saja. bahkan lebih buruknya saya menfasilitasi hal tersebut.

 tapi, zaman sudah berubah bung. Kita Indonesia, kaum muda sudah teracuni oleh gaya hidup dan terisi hatinya oleh liberalisme. kita kalah oleh arus globalisasi. kita tak peduli dengan budaya. Kita sadar.. kita bicara.. kita demo.. tapi apakah kita bergerak??

kawan ayo gerak, kaki kita dan tangan kita bukan untuk diam. disana tersimpan mukjizat untuk mengubah ke arah yang lebih baik. ingat kita pemuda. bergerak simpan pinta mu saat kau jompo. sekarang wujudkan dengan bergerak 

 

Budaya, kebiasaan menyalahkan kebiasaan

May 7, 2007
Budaya adalah sebuah nilai dalam masyarakat yang melekat erat dengan kepribadian tiap individu dalam komunitas. Jika diartikan seperti itu berarti budaya merupakan kesamaan cara berpikir dan kebiasaan tiap inividu dalam suatu komunitas. Akan sangat sulit bagi saya untuk membahas budaya, karena budaya memilki kerumitan sendiri dan harus menggunakan pendekatan ilmu sosial yang tidak saya kuasai.
Tapi bagaimana dengan kebiasaan, walau tidak menecerminkan keseluruhan kebiasaan seseorang juaga dibentuk dari keadaan masyarakat. Menurut saya akan sangat sulit membentuk kebiasaan yang baik jika kita berada di lingkungan orang-orang yang memiliki kebiasaan jelek.
Tapi lagi-lagi apakah kita akan selalu menyalahkan keadaan? Semua yang terjadi pada kita adalah akibat lingkungan sekitar kita? Gayaku berbicara, berpikir bahkan bertindak adalah hasil interaksiku dengan komuntasku? Jika kebiasaan ini kulakukan karena orang lain juga melakukan? Apakah kita akan terus-terusan seperti ini?
Sudah lumrah dikehidupan kita saat ini jika mengadakan acara selalu telat dari jadwal dan orang-orang akan nyeletuk “ah orang Indonesia sih”. Kata-kata ini sering sekali diucapkan dan aku tak habis berpikir kenapa negara yang disalahkan. Bahkan tidak sedikit aku temui teman-temanku yang sudah kehilangan jiwa indonesia dan malah membanggakan ketidakindonesian dirinya baik itu ciri fisik ataupun sifat. Tolong dimana kalian saat ini berdiri? Di bumi pertiei ini bukan? Kenapa tidak berusaha merubah bukan terus pesimis dan menyalahkan, bahkan mengexclude diri sendiri. Mungkin yang saya berikan adalah contoh yang sangat ekstrim. Tapi itulah kenyataan. Meyalahakan,menyalahkan dan menyalahkan keadaan.
Aku rasa kita tak ingin ini terus berjalan. Kita butuh pengubah. Orang-orang yang memilki optimis dan yakin akan harapan. Menularkan semangatnya ke orang lain. Tidak menyalahkan keadaan, orang lian maupun komunitas. Bertanggung jawab atas semua kesalahannya. Mungkin dibenci karena melawan arus. Tapi itulah konsekuesi idealisme dan anti-kemunafikan Sekarang pertanyaanya inginkah kita menjadi orang itu?

Budaya suatu komunitas dan kaitannya dengan kaderisasi

Switch bekas berharga Rp 50.00,00 yang tidak bekerja ternyata membuatku pusing. Rencananya kucoba beli dulu  untuk himpunan jika berhasil bukankah himpunan bisa menghemat Rp 100.000,00 soalnya switch standar bermerek harganya Rp 150.00,00, aku pun pergi ke warkop untuk mencari penyegaran. Temanku dari IMG 2004 Sihotang ternyata sedang berada di warkop. Iseng-iseng  kami ngobrol dan lama-kelamaan topik kita pun menyinggung masalah kemahasiswaan. kebetulan kita lagi punya kesibukan di himpunan masing-masing. Dari sihotang saya mendapat informasi teman-teman IMG sedang mengadakan rangkaian acara yang berdana besar dan tetnu saja menyedot sponsor. Hal ini tentu saja menarik minat saya. KePengurusan HMIF ini aku mendapatkan keprcayaan untuk menjadi kepala biro marketing. Dan informasi dari Sihotang sangat membantuku untuk membuat rencana ke depan di biro marketing HMIF.
Obrolan kami pun berlanjut di isu hangat ITB yaitu kaderisasi. Dari semua pembicaraan yang ia katakan aku tertaik pada pernyataan “semua kaderisasi 2005 gagal, padahal kaderisasi yang baik akan menentukan maju tidaknya suatu himpunan ke depan.” pada kelanjutan pembicaraan kami aku berpikir ia memilki mosi tidak percaya kepada 2005 karena banyak menerima hal-hal yang instan. Ia juga menambahkan IMG pun melakukan kesalahan dalam cara kaderisasi mencoba mencampurkan teori tabula rasa dan orang dewasa. Dalam pemikirannya penggabung ini terdapat kejelekan dimana tidak terdapat konsistensi yaitu tabula rasa tapi dipaksa berpikir dewasa, trus katanya orang dewasa kok musti dibaris dan diatur-atur. Tentu saja ini merupakan cerminan untuk iMG agar jangan melakukan kesalahan lagi di masa depan tambahnya. Aku cuma terdiam. Tak terasa waktu berlalu dan sihotang mengatkan ia harus kembali dan berpamitan denganku.
Dari pembicaraanku dengan Sihotang Aku menyimpulkan ada suatu budaya jelek yang muncul di ITB yaitu sifat abu-abu dan cari jalan tengah. Abu-abu yaitu sifat menggabungkan dua teori yang jelas-jelas bertentangan dengan alasan ingin medapatkan semua kebaikannya. Ini sesuai dengan ceritaku tentang cara kaderisasi IMG dulu yang mencoba menggabungkan cara orang tertindas dan orang dewasa. Akhirnya bukan kebaikan yang didapat justru ketidakjelasan hasil dan nasib.
Tentu saja budaya abu-abu adalah budaya yang memunculkan cari jalan tengah. Saat ini kalau aku ikut rapat trend orang adalah mencari jalan tengah. Padahal menurutku tidak semuanya lho harus jalan tengah. Pendapat orang kan juga gak selalu bisa digabungkan. Daripada memihak suatu sisi orang lebih suka meminimalkan resiko dengan mencari jalan tengah. Tapi aku lebih melihat tujuan cari jalan tengah cari aman dan tidak mau ambil resiko. Padahal setiap keputusan ada resikonya termasuk jalan tengah itu sendiri. Jalan tengah pun tidak menjamin resiko yang ditimbulkan akan lebih sedikit. Aku menyarankan jikapun ada jalan tengah tapi jika jalan tengah itu terkesan cari aman aku sih akan berkata tidak untuk jalan tengah. Lebih baik mengkaji kedua sisi, saling memberi pengertian dan mengambi satu sisi.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Viewfinder Design